Mencari Sahabat
Katanya persahabatan sejati tidak akan pernah mati... Jangankan di dunia, pun di akhirat kelak, ada kemunginan pertemuannya berlanjut.
Sahabat memnag bisa menjadi segalanya saat „butuh“. Dia bisa jadi sosok penyemangat, penghibur, pemberi nasehat, penenag saat penat dan bertumpuknya masalah... pemberi solusi... teman senang susah, de-el-el de-es-be..
Kalo dilihat dari sekian aspek manfaat yang kita dapet dari temenan ituu.. smua juga pasti akan setuju.. siapa sih yang gak mau punya sahabat? Siapa sih yang tak merindukan kehadirannya? Tak hanya dalam konteks sahabat dalam arti teman, pokoknya siapapun itu bentuknya.. bisa kakak, adik, ibu, ayah... sodara apalah! Yang jelas ada indikasi kedekatan yang lebih yang kita rasakan..
Kadang, sering sekali timbul iri dalam hati saat melihat betapa orang lain bisa menjadi sosok sahabat baik bagi temnanya. Mereka terlihat begitu akrab. Selau berbagi satu sama lain, saling merasakan beban, senang, sesah, bahagia, dsb. Ada gelitik dalam lintasan hati ini mengapa aku tidak bisa spt mereka?
Yah, kedekatan memang tidak bisa dipaksaan, Seringnya bertemu bahkan untuk waktu yang lama bukanlah parameter yang tepat mengukur kedekatan hati seseorang. Sadar akan hal itu, kini akupun bisa sedikit paham mengapa teman sekosan terkesan kurang nyaman berbagi cerita denganku. Yah, mungkin saja ada hal yang tidak bisa disambungkan dari kami dalam hal ini.
Tapi kadang akupun heran, mengapa ketika suatu saat bertemu dengan kenalan baru yang sama sekali belum pernah bertemu sebelumnya tiba-tiba terjalin kedekatan yang begitu luar biasa. Entah magnet apa yang ada pada akhwat itu. Dia bahkan sosok yang biasa aku temui dikampus-kampus. Hal yang tak aneh! Tapi ini benar-benar aneh! Aku mendapati dia sosok yang inspiring (bangget gitchu loch!). Baru sekali itu aku bertemu dalam situasi yang tidak kebetulan. Bertemu dalam rapat luar biasa yang mungkin hanya sekali aku ikuti (lhaa.. wong iseng ikut rapat kakak saat main ke jkt). Deg! Sejam... dua jam.. cerita mengalir.. dan waaah.. sampai akupun sangat tsiqoh diajak nginep di asramanya.. dan wow.. saat pagi aku pulang ke bandung... Betapa kedekatan itu sulit di lukiskan.. bahkan sampai kini komunikasi kami tetap jalan.
Memang! Tiada kata seindah Ukhuwah...
Biarlah kedekatan hati itu terjalin secara alamiah tanpa paksaan ato sekedar formalitas dan tampilan luar. Toh, seringnya beraktivitas di organisasipun yang aku perhatikan tak semuanya bisa menikmati diri rajut indahnya UKHUWAH itu. Kadang interaksi yang terjadi bahkan dirasa hanya sekedar kewajiban meng-GOAL-kan sebuah acara. Tak lebih!
Katanya persahabatan sejati tidak akan pernah mati... Jangankan di dunia, pun di akhirat kelak, ada kemunginan pertemuannya berlanjut.
Sahabat memnag bisa menjadi segalanya saat „butuh“. Dia bisa jadi sosok penyemangat, penghibur, pemberi nasehat, penenag saat penat dan bertumpuknya masalah... pemberi solusi... teman senang susah, de-el-el de-es-be..
Kalo dilihat dari sekian aspek manfaat yang kita dapet dari temenan ituu.. smua juga pasti akan setuju.. siapa sih yang gak mau punya sahabat? Siapa sih yang tak merindukan kehadirannya? Tak hanya dalam konteks sahabat dalam arti teman, pokoknya siapapun itu bentuknya.. bisa kakak, adik, ibu, ayah... sodara apalah! Yang jelas ada indikasi kedekatan yang lebih yang kita rasakan..
Kadang, sering sekali timbul iri dalam hati saat melihat betapa orang lain bisa menjadi sosok sahabat baik bagi temnanya. Mereka terlihat begitu akrab. Selau berbagi satu sama lain, saling merasakan beban, senang, sesah, bahagia, dsb. Ada gelitik dalam lintasan hati ini mengapa aku tidak bisa spt mereka?
Yah, kedekatan memang tidak bisa dipaksaan, Seringnya bertemu bahkan untuk waktu yang lama bukanlah parameter yang tepat mengukur kedekatan hati seseorang. Sadar akan hal itu, kini akupun bisa sedikit paham mengapa teman sekosan terkesan kurang nyaman berbagi cerita denganku. Yah, mungkin saja ada hal yang tidak bisa disambungkan dari kami dalam hal ini.
Tapi kadang akupun heran, mengapa ketika suatu saat bertemu dengan kenalan baru yang sama sekali belum pernah bertemu sebelumnya tiba-tiba terjalin kedekatan yang begitu luar biasa. Entah magnet apa yang ada pada akhwat itu. Dia bahkan sosok yang biasa aku temui dikampus-kampus. Hal yang tak aneh! Tapi ini benar-benar aneh! Aku mendapati dia sosok yang inspiring (bangget gitchu loch!). Baru sekali itu aku bertemu dalam situasi yang tidak kebetulan. Bertemu dalam rapat luar biasa yang mungkin hanya sekali aku ikuti (lhaa.. wong iseng ikut rapat kakak saat main ke jkt). Deg! Sejam... dua jam.. cerita mengalir.. dan waaah.. sampai akupun sangat tsiqoh diajak nginep di asramanya.. dan wow.. saat pagi aku pulang ke bandung... Betapa kedekatan itu sulit di lukiskan.. bahkan sampai kini komunikasi kami tetap jalan.
Memang! Tiada kata seindah Ukhuwah...
Biarlah kedekatan hati itu terjalin secara alamiah tanpa paksaan ato sekedar formalitas dan tampilan luar. Toh, seringnya beraktivitas di organisasipun yang aku perhatikan tak semuanya bisa menikmati diri rajut indahnya UKHUWAH itu. Kadang interaksi yang terjadi bahkan dirasa hanya sekedar kewajiban meng-GOAL-kan sebuah acara. Tak lebih!
No comments:
Post a Comment